Beranda » Menemui Tujuh Saudari di Pantai Sussex
AKSARA • TRAVELOGUE

Menemui Tujuh Saudari di Pantai Sussex

“Liat pantai di Inggris? Ngapain?

Itu yang terlintas ketika Susilo dan Rani, teman yang rumahnya kami inapi di London, mengajak ke Seven Sisters. Pantai itu 2 jam perjalanan di luar pusat kota.

Saya agak malas. Bukan apa-apa. Sebagai orang Indonesia, pantai bukan sesuatu yang membuat saya harus terbang jauh-jauh ke Inggris. Negeri kita punya ribuan pulau dan garis pantai yang panjang. Pantai indah ada di mana-mana.

“Lihat dulu fotonya,” kata Ilo –begitu kami biasa memanggil Susilo, yang sudah 26 tahun tinggal di London – itu membujuk.

Rani lalu menunjukkan sebuah buku, The Road to Little Dribbling, karya penulis perjalanan Bill Bryson. Sampulnya menampilkan tebing putih menjulang di atas laut, dengan padang rumput hijau dan rumah-rumah di kejauhan.

Saya mulai goyah.

Membayangkan berjalan di udara dingin dengan laut terbentang di depan mata ternyata cukup untuk membuat saya berubah pikiran. Kapan lagi ke pantai tanpa bikin berkeringat.

Kami berangkat. Kawasan ini bisa ditempuh menggunakan bis dan kereta api. Dari terminal bis Victoria Station naik bis antarkota ke Brighton. Kemudian dilanjut dengan bus lokal ke Chyngton Lane. Sedangkan kereta bisa dari stasiun London Victoria turun di Seaford. Lalu lanjut dengan bus lokal ke Chyngton Lane.

Tapi kami memilih mobil.

Baca juga:   Hoaks Yang Membunuh Khalifah

Dari London, tujuan pertama kami adalah Seaford Head, titik awal untuk berjalan menuju kawasan Seven Sisters. Kota pertama yang dilewati Brighton. Bagi penggila sepak bola Inggris, nama kota ini cukup akrab. Ada Brighton & Hove Albion, klub yang baru beberapa waktu lalu mengalahkan juara Liga Arsenal, dan Manchester United.

Begitu keluar dari suasana kota, pemandangan perlahan berubah. Gedung-gedung dan jalan ramai berganti ladang hijau, perbukitan, dan rumah-rumah yang tersebar di antara hamparan pedesaan.

Saya suka bagian perjalanan ini.

Ada kesan bahwa ruang terbuka memang diberi tempat. Ladang dan padang rumput tetap menjadi bagian dari lanskap, tidak semuanya berubah menjadi bangunan.

Sampai akhirnya kami tiba di Seaford Head, East Sussex. Jalan mendaki dengan pemandangan rerumputan dan ladang, mirip suasana puncak.

Kami memarkir kendaraan dan mulai bersiap berjalan.

Tidak ada tukang parkir yang sibuk mengatur kendaraan. Semuanya dilakukan sendiri. Termasuk bayar sendiri di mesin. Begitu juga ketika mencari toilet. Gratis. Masuk area trekking dan pantai juga tidak perlu morogoh kocek. Hal-hal kecil, tetapi membuat perjalanan terasa ringan.

Lalu kami mulai trekking.

Jalur setapak membelah padang rumput di atas bukit. Di kiri-kanan, beberapa biri-biri sedang merumput. Sesekali mereka menoleh ke arah kami, seolah tak terganggu lalu kembali makan.

Baca juga:   Jangan GR, Gede Harapan aja

Udara musim gugur terasa dingin dan segar. Matahari masih muncul, tetapi tidak menyengat. Angin laut membuat berjalan beberapa kilometer justru terasa menyenangkan.

Kami tidak terburu-buru.

Kadang berhenti mengambil foto. Kadang hanya berdiri memandang laut yang mulai terlihat dari balik bukit.

Lalu tebing itu muncul. Putih. Tinggi. Memanjang mengikuti garis pantai.

Satu demi satu, sampai terlihat tujuh tebing kapur yang berdiri berderet seperti barisan yujuh saudari menghadap laut. Seven Sisters.

Saya langsung teringat sampul buku yang ditunjukkan Rani. Kami bahkan mencoba membuat foto dengan posisi mencontoh gambar di sampul buku. Tentu saja gagal berkali-kali. Tetapi justru itu yang menyenangkan. Semakin dekat dengan tebing, semakin terasa bedanya dengan foto di sampul buku.

Kami terus berjalan mengikuti jalur di atas bukit. Di satu sisi laut. Di sisi lain padang rumput. Kadang jalurnya menanjak, kemudian turun lagi. Ada jalur panjang menyusuri pantai. Ada juga yang memutari perkebunan. Di salah satu pemandangan pantai banyak yang membawa kursi piknik. Menyesap kopi dan mengudap keripik kentang, dengan pemandangan biru dan hembusan angin laut, saya merasa, ajakan melihat pantai tadi, tak lagi soal melihat pantai semata.

Dalam perjalanan pulang, saya teringat Indonesia. Bukan untuk menentukan mana yang lebih indah. Seven Sisters punya lanskapnya sendiri. Pantainya bahkan berbeda dengan pantai tropis yang biasa kita kenal. Sebagian garis pantainya berbatu dan airnya dingin.

Baca juga:   Debu Riba di Penukaran Uang Lebaran

Saya justru membayangkan pantai-pantai kita. Pasir putih dengan air laut yang hangat. Tebing dan perbukitan yang langsung bertemu laut. Kalau bicara kekayaan alam, Indonesia jelas punya cerita yang panjang.

Yang saya pikirkan justru pengalaman kecil selama berada di pedesaan East Sussex.

Betapa menyenangkannya ketika kita bisa datang, memarkir kendaraan, menemukan toilet, lalu berjalan mengikuti jalur yang jelas tanpa banyak urusan lain yang mengganggu.

Mungkin ini salah satu hal yang sering luput ketika kita bicara tentang destinasi wisata. Keindahan alam memang alasan pertama orang datang. Tetapi setelah sampai, hal-hal sederhana ikut menentukan apakah kita ingin tinggal lebih lama.

Saya teringat perjalanan menuju tempat wisata kita. Tempat dan pemandangan indah, membuat kita ingin berlama-lama. Tapi akses transportasi tak sederhana.

Tujuh tebing putih makin mengecil di kejauhan. Temaram senja membuat alam makin syahdu.

Saya datang karena sebuah foto di sampul buku. Saya pulang membawa foto sendiri, serta kenangan tentang jalan setapak di antara padang rumput dan hamparan laut.

Dan mungkin, cara baru untuk melihat tempat-tempat indah di negeri sendiri.

About the author

Latief Siregar

TUKANG KOMBUR ON YOUTUBE

Oktober 2026
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031