Begitu tiba di Lake District, saya langsung teringat Danau Toba.
Ada sesuatu yang terasa akrab: air yang membentang di antara perbukitan hijau, udara dingin, jalan berkelok, dan lanskap yang membuat kita tanpa sadar memperlambat langkah. Bedanya, saya sedang berada di Cumbria, Inggris. Bukan di Samosir.
Kami tinggal di sebuah RB&B di Newton-in-Cartmel, desa kecil sekitar 45 menit berkendara dari Lancaster. Waktu yang hampir sama jika ingin ke Windermere, tempat utama menjelajahi Lake District. Perjalanan menuju Lake District sudah menjadi bagian dari pengalaman: jalan kecil yang membelah hamparan hijau, rumah-rumah batu, bukit dan sesekali pemandangan danau yang muncul di kejauhan.
Kami menggunakan mobil, bukan karena transportasi umum yang menjadi khas Inggris tidak ada. Ternyata setiap hari Minggu, bis yang melintasi desa kami tinggal tidak beroperasi.
Windermere bisa dicapai dengan kereta api. Tetapi dari penginapan harus naik dari stasiun Lancaster. Itu memutar, karena secara geografis, Newton in Cartmel ada di tengah-tengah antara Lancaster dan Windermere.
Kota kecil Windermere layaknya kota-kota di Inggris. Deratan toko dan cafe membelah pusat kota, ada gereja. Istimewanya kota ini berada di sisi danau. Halte bis bersisian dengan pelabuhan kapal wisata yang siap membawa berkeliling Taman Nasional Lake District, situs warisan dunia Unesco.
Ada bermacam kategori cruising yang bisa dipilih sesuai durasi dan tujuan. Pengunjung bisa melihat desa, kereta uap kuno, juga museum motor dan mobil tua. Bisa juga memilih rute yang singgah di kastil kuno, taman luas, dan jalur hiking dan sepeda gunung.
Trotoar yang nyaman membuat penjelajahan pinggir danau, berpindah ke café atau penjual kudapan semakin nyaman. Hujan yang turun merinai di awal autumn membuat udara semakin dingin. Tetapi itu justru menambah pengalaman baru.
Cukup mengitari Windermere, kami kemudian naik bus tingkat menuju Waterhead. Bus menghubungkan Windermere, Bowness, Ambleside, dan Waterhead. Duduk di atas, melihat perbukitan dan rumah-rumah kecil dari balik kaca, perjalanan puluhan menit itu terasa seperti bagian dari wisata, bukan sekadar perjalanan menuju tempat wisata.
Di sini, naik bus pun bisa menjadi cara menikmati pemandangan.
Melihat plang Waterhead, teman dari Garut bergurau, “ini mah hulu cai”. Bahasa sunda bermakna sama, kepala air. Kebetulan Hulu Cai juga tempat wisata di Kawasan Puncak. Waterhead seperti miniatur Windermere, ada café dan kapal untuk menjelajah danau. Hujan yang on off membuat kami memilih café pinggir pantai. Memesan makanan khas fish and chips, dan kopi panas.
Momen yang indah. Duduk di kafe di tepi danau, memandang air yang berubah kelabu karena cuaca, saya merasa tidak sedang mengunjungi sebuah “objek wisata”.
Saya seperti sedang menikmati kehidupan sebuah kota kecil yang kebetulan berada di tepi danau.
Itulah salah satu kekuatan Lake District.
Pemandangan bukan sekadar latar untuk berfoto. Pemandangan menjadi bagian dari kehidupan.
Dan sistem transportasinya ikut membentuk pengalaman itu.
Dari stasiun kereta, naik bus. Dari bus, turun untuk berjalan. Bisa juga naik kapal keDari Waterhead, bisa naik kapal. Di titik lain, bisa kembali ke bus.liling danau.
Lake District National Park sendiri menyebut kawasan Windermere, Bowness dan Ambleside sebagai salah satu bagian yang paling terkoneksi, dengan kombinasi bus, kereta, kapal, berjalan kaki dan bersepeda.
Angin danau membuat udara yang sehabis hujan makin dingin.
“Enaknya makan indomie rebus ya”, kata istri sambil merapatkan jaket.
Itu membuat saya kembali teringat Danau Toba. Tak elok membandingkannya. Bayangkan, luas danau Windermere hanya 14,73 km persegi. Jejerkan dengan luas Danau Toba, 1.145 km persegi. Hampir 78 kali luas danau terbesar di Lake District. Memang ada banyak puluhan danau lagi di Lake District National Park yang memiliki luas 2.362 kilometer persegi. Jika membanding lagi, park di Cumbria ini masih kalah dengan kawasan Geopark UNESCO yang memiliki luas 3.658 km persegi.
Danau Toba sebenarnya memiliki bahan yang luar biasa.
Ada kaldera raksasa, Pulau Samosir, kebudayaan Batak, desa-desa, rumah adat, ulos, musik, kopi, kuliner, bukit dan berbagai titik panorama.
Akses juga terus berkembang. Ada Bandara Sisingamangaraja XII di Silangit, akses dari Medan dan Kualanamu, jalan menuju Balige dan Parapat, serta kapal menuju Samosir. Dari bandara mendekat ke area wisata ada bus Damri, taksi, dan rental. Jika ingin menyeberang ke Pulau Samosir yang terletak di tengah danau, bisa naik kapal. Bisa naik ferry atau kapal kayu tradisional.
Setelah berada di Samosir, untuk berkeliling ada shuttlebus dan kapal antar-dermaga seperti dari Tomok ke Tiga Raja.
Tetapi pengalaman wisatawan masih bisa terasa terpisah-pisah.
Sampai di satu tempat, mencari kendaraan berikutnya. Mau ke lokasi lain, mencari informasi lagi. Mau naik kapal, mencari tahu dari mana dan kapan berangkat. Padahal kekuatan transportasi umum adalah kepastian jadwal, ongkos yang terjangkau, dan kenayaman perjalanan.
Setelah akses, pengalaman wisatanya belum selalu terasa menyatu.
Ini bukan berarti Danau Toba harus meniru Lake District.
Justru sebaliknya.
Danau Toba terlalu khas untuk dibuat menjadi versi Indonesia dari kawasan wisata Inggris itu.
Yang perlu dibangun adalah pengalaman yang menghubungkan semua kekuatan yang sudah dimiliki.
Bayangkan wisatawan tiba di Silangit dan langsung mendapatkan pilihan perjalanan yang jelas: ke Balige, Parapat atau Samosir. Ada bus wisata dengan rute dan jadwal yang mudah dipahami. Ada kapal yang terintegrasi. Ada jalur trekking, desa budaya, tempat kuliner dan titik pandang yang terhubung.
Pagi menikmati matahari terbit. Siang mengenal budaya Batak. Sore naik kapal. Malam menikmati kopi dan kuliner khas lokal ombus-ombus. Lalu makan Na Niura, shashimi khas Batak dan spageti Toba alias mie gomak.
Dengan begitu, wisatawan tidak datang ke Danau Toba hanya untuk melihat pemandangan.
Mereka datang untuk mengalami Danau Toba.
Alamnya sudah ada
Maka yang membuat saya terus memikirkan Danau Toba setelah perjalanan ini bukan soal mana yang lebih indah.
Melainkan bagaimana sebuah kawasan dengan alam yang luar biasa bisa membuat wisatawan mudah datang, mudah berpindah dan mudah menemukan pengalaman berikutnya.
Mungkin kita terlalu sering menjual Danau Toba dengan kemegahan ukuran, terbesar di Asia Tenggara dan dan danau vulkanik terbesar di dunia. Atau menjual dengan satu gambar: danau biru, bukit hijau dan Pulau Samosir.
Padahal Danau Toba jauh lebih besar daripada satu foto.
Ia memiliki begitu banyak sudut pandang dan cerita.
Pemerintah tidak hanya perlu membuat orang tahu bahwa Danau Toba indah dan besar. Yang lebih penting adalah membuat keindahan itu mudah ditemukan, mudah dijelajahi dan mudah dinikmati.
Transportasi publik yang terintegrasi. Informasi perjalanan yang jelas. Dermaga yang nyaman. Jadwal kapal yang mudah diketahui. Jalur pedestrian. Titik pandang. Ruang publik di tepi air. Desa wisata yang terhubung dengan rute perjalanan.
Hal-hal itu terdengar sederhana.
Tetapi pengalaman naik bus tingkat dari Windermere menuju Ambleside membuat saya memahami satu hal:
transportasi bisa menjadi bagian dari cerita sebuah destinasi.
Dan sore itu, sambil menikmati fish and chips dan kopi dengan Windermere di depan mata, saya kembali membayangkan Danau Toba.
Kita punya danau yang ukurannya puluhan kali lebih besar.
Maka pertanyaannya bukan lagi apakah Danau Toba cukup indah.
Pertanyaannya: sudahkah kita membuat orang cukup mudah untuk menemukan keindahan itu?





