Categories: AKSARA

Naik Kereta Api Tut..tut..tuutttt

Kulempar pandang dari balik jendela kereta api KRL Depok Ekspres. Jalan Raya Lenteng Agung penuh kendaraan. Mobil pun beranjak merayap. Ah, nikmatnya kereta api. Dalam 30 menit kemuka, aku akan sampai ke stasiun Gondangdia. Aku berani bertaruh, dalam waktu yang sama, mobil-mobil itu belumlah melewati Tanjungbarat. Mulai hari ini, secara resmi, kereta api akan menjadi moda angkutan harianku. Ini sejalan dengan perpindahan kantor Divisi News TPI, dari Taman Mini ke Menara Kebon Sirih. News TPI bergabung dalam newsroom besar MNC News, bersama Global TV dan SUN-TV.

Kereta api menjadi salah satu topik menarik dibalik perpindahan ini. Maklum, kantor TPI di Pintu II TMII sudah belasan tahun. Artinya sudah banyak yang tinggal di kawasan seputar sana, Pondok Gede, Bekasi dan sekitarnya. Karena lokasinya yang pinggiran, maka kosa kata macet jarang mengisi perbincangan. Sementara, Gondangdia ada di pusat kota. Sekelilingnya adalah titik macet. Tak syak, kereta api adalah alternatif. Itu bagi yang tinggal tak jauh dari garis rel. Seperti aku, yang tinggal di Kukusan, belakang Kampus UI. Tapi bukan karena aku dekat dengan stasiun, sehingga aku tidak masuk golongan yang risau dengan perpindahan. Kantor yang lebih jauh, lebih macet juga pernah aku jalani. Lagipula, tak ada yang abadi kecuali perubahan khan.

Kembali ke rel. Pertama menyebut akan naik kereta api setiap hari, teman2 pada berkerut, mencibir ngeri, atau tak percaya. Bayangan mereka, kereta api masih dalam konteks baheula: kereta api penuh sampai ke atap, banyak copet, jadwal tidak menentu. Oho, itu cerita lama tuan. Kereta api kini dipadati perempuan wangi jali, orang2 ber-blackberry. Lihatlah petang hari di stasiun2 dekat kawasan kantor seperti Dukuh Atas. Merekalah kelompok kapok bermobil. Dari rumah mereka bermobil, lalu parkir di stasiun, dan melanjut dengan kereta api. Peningkatan pelayanan ditandai dengan pendirian perusahaan dalam perusahaan PT KAI untuk mengurusi Kereta Komuter Jabotabek, Commuterline.

Banyak yang bisa dilakukan PT KAI untuk meningkatkan layanan. Mumpung gairah menggunakan angkutan publik sedang tinggi. Misalnya pola pengaturan harga tiket. Saat ini yang baru ada itu, karcis bulanan kelas Ekonomi dan AC Ekonomi (abonemen). Masih banyak kategori lain, misalnya tiket harian, mingguan, bahkan tahunan. Tentu saja, semakin lama periodenya semakin murah. PT KAI juga bisa bekerja sama dengan kantor-kantor seputaran Sudirman-Thamrin, agar kantor2 tersebut memberikan subsidi tiket, ketimbang subsidi parkir. Penyimpanan kendaraan di stasiun2 diperbaiki dan dikelola profesional bin aman. Suatu masa kelak, kereta api berkelindan dengan moda lain, satu tiket satu perjalanan. Jika angkutan publik murah dan nyaman, apatah lagi alasan mempertahankan mobil mengotori udara? Ayo, daripada cuma teriak go green..!!!

Tulisan ini dibuat Maret 2009.

Latief Siregar

Recent Posts

Menikmati Surga Pesepeda di Utrecht

PEREMPUAN jelita itu berdiri dari bangku kafe di pinggir kanal. Melihat gaya serta tas kulit…

1 tahun ago

ADA KORTING DEKAT BIOSKOP

Begitu memasuki hotel, aku disambut receptie yang ramah menyapa. Mungkin kata ini yang diserap menjadi resepsi…

1 tahun ago

Membunuh Mental Sukanta

Tergopoh Sukanta bergerak dari kursi, begitu mendengar suara sepatu di seret. Malang, karena ia awalnya…

3 tahun ago

Bima Dibela Bima Dicela

Dari segelintir unggahannya, Bima rajin menggunakan kata-kata bombastis. Gubernur dajjal, megawati janda, soekarno mampus, orang…

3 tahun ago

Bagaimana Mencipta Nama Baik

Melakukan tindakan preventif yang bisa membuat pihak lain terhindar dari kecelakaan, adalah perbuatan baik. Seperti…

3 tahun ago

This website uses cookies.