Saya datang untuk membantu mereka mempersiapkan presentasi lomba. Tapi setelah mendengar cerita mereka, saya justru merasa sedang belajar tentang arti bekerja.
Enam anak muda pegawai LRT Jabodebek ini punya kegelisahan yang sederhana: mengapa pekerjaan yang setiap hari dilakukan harus selalu dikerjakan dengan cara yang sama?
Mereka melihat eskalator kenapa bisa rusak disaat jam sibuk. Mereka memikirkan bagaimana memastikan tangki air untuk toilet dan tempat wudu selalu terpantau. Mereka melihat barang di gudang yang sebenarnya ada, tetapi sulit ditemukan ketika dibutuhkan.
Lalu mereka membuat solusi.
Ada alat untuk mendeteksi kerusakan eskalator. Ada sistem pemantauan volume tangki air. Alat itu bekerja memastikan prasarana stasiun yang dibutuhkan pelanggan, tidak rusak saat diperlukan. Bayangkan jika tangga berjalan itu di jam sibuk, dimana ada 10 ribu pengguna LRT hilir mudik. Kita akan melihat lansia dan ibu hamil kesulitan menuju kereta.
Lal ada aplikasi yang membantu menemukan keberadaan barang di gudang sehingga penanganan kerusakan sarana dan prasarana bisa lebih cepat.
Yang menarik, inovasi mereka tidak berhenti pada urusan teknis. Salah satunya membuat aplikasi virtual tour untuk calon penyewa area stasiun. Tak perlu lagi datang hanya untuk melihat lokasi. Proses kontrak bisa dipangkas hingga separuh. Waktu lebih efisien, proses bisnis lebih cepat, peluang pendapatan pun meningkat. Jika sebelumnya seluruh proses memakan waktu 25 hari, sekarang cukup 14 hari cuan sudah datang.
Di situlah saya melihat sesuatu yang lebih penting dari sekadar lomba inovasi.
Mereka tidak sekadar mengerjakan tugas. Mereka memikirkan bagaimana pekerjaan itu bisa dilakukan dengan lebih baik.
Saya mungkin datang hanya membantu mereka merapikan cerita dan menyusun urutan presentasi. Tetapi semangat, keberanian mencoba, dan inovasi itu sepenuhnya milik mereka.
Dan saya pulang dengan satu keyakinan:
Inovasi tidak selalu dimulai dari teknologi yang hebat. Kadang ia dimulai dari keberanian melihat masalah sehari-hari dan berkata: “Kenapa tidak kita buat lebih mudah?”
Enam anak muda itu tidak berhenti bertanya.
Mereka membuat jawabnya.
Kulempar pandang dari balik jendela kereta api KRL Depok Ekspres. Jalan Raya Lenteng Agung penuh…
PEREMPUAN jelita itu berdiri dari bangku kafe di pinggir kanal. Melihat gaya serta tas kulit…
Begitu memasuki hotel, aku disambut receptie yang ramah menyapa. Mungkin kata ini yang diserap menjadi resepsi…
Tergopoh Sukanta bergerak dari kursi, begitu mendengar suara sepatu di seret. Malang, karena ia awalnya…
Dari segelintir unggahannya, Bima rajin menggunakan kata-kata bombastis. Gubernur dajjal, megawati janda, soekarno mampus, orang…
This website uses cookies.